SISTEM EKONOMI ISLAM

1. Islam Sebagai Sumber Nilai Ekonomi
Tak dapat dipungkiri bahwa ekonomi islam telah menarik perhatian dari berbagai kalangan dan bangsa, hal ini disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, meredupnya sistem ekonomi ala Karl Marx akibat ditinggalkan oleh pengikutnya. Kedua, “keberhasilan semu” sistem ekonomi kapitalis. Fenomena pendirian berbagai lembaga – lembaga riset ekonomi islam menimbulkan dua sudut pandang berbeda. Pada kutub positif, ekonomi menjadi sarana dakwah islam yang efektif. Sedangkan pada kutub negatif, ekonomi Islam dijadikan komoditas untuk memperkaya kaum kapitalis.
Begitu banyak ayat Alquran dan hadis Nabi saw. Yang menegaskan bahwa Islam merupakanagama yang komprehensif (kaffah) dan universal. Selain itu, ajaran Islam meliputi semua aspek kebidupan manusia. Islam juga mengatur hubungan antara manusia dan Allah, juga hubungan antar sesama manusinya yang diatur dalam konsep muamalah yang meliputi aspek ekonomi, politik, pemerintahan, sosial, hukum, pendidikan dan sebagainya. Keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
Salah satu ajaran islam yang mengatur hubungan antar sesama manusia dalam upaya mereka untuk memenuhi keinginanan yang tak terbatas dengan sumber daya yang terbatas dinamakan muamalah maddiyah atau dalam istilah lain ‘ilm al-iqtishad (ilmu ekonomi). Ilmu tersebut meliputi berbagai kaidah untuk mengatur setiap tindakan manusia untuk memenuhi keinginan mereka. Kaidah tersebut meliputi aspek produksi, distribusi, dan konsumsi barang untuk memenuhi keinginan manusia yang tak terbatas.
Upaya untuk memenuhi keinginan menghajatkan adanya kerja sama dan slaing berbagi diantara para pelaku ekonomi. Setiap orang saling bergantung dan tak bisa menyelesaikan permasalahan ekonominya secara individual. Karena itu, prinsip dasar dalam hubungan ekonomi adalah saling tolong menolong dan saling berbagi. Tanpa oprinsip itu, manusia tidak akan bisa menyelesaikan masalahnya, namun justru akan memunculkan masalah lain yang lebih rumit.
Secara garis besar, fiqih dibagi menjadi 2, yaitu fiqh ibadah dan fiqh muamalah. Fiqih muamalah akan selalu mengalami perubahan sesaui dengan perkembangan zaman dan perkembangan situasi sosial. Secara umum, aktivitas ekonomi yang termasuk dalam fiqih muamalah terbagi kedalam dua sektor utama, yaitu sektor keuangan atau moneer dan sektor riil. Kedua sektor itu tak dapat dipisahkan satu sama lain, karena sektor keuangan mencerminkan aktivitas sektor ekonomi riil. Dengan kata ain, sektor moneter tak dapat mengalami perubahan apabila sektor riil tidak mengalami perubahan. Apabila sektor riil berkembang maka sektor moneter juga akan berkembang.
Pelaku ekonomi adalah para individu, rumah tangga, perusahaan swasta, dan pemerintah. Para era modern banyak pelaku ekonomi global yaitu perusahaan-perusahaan multinasional baik swasta mauoun pemerintah. Semua pelaku ekonomi itu teribat dalam aktivitas produksi, disribusi, dan konsumsi. Bagi umat islam,semua aktivitas ekonomi atau pemenuhan kebutuhan itu selamanya tetap harus didasarkan atas ajaran Islam, karena manusia diciptakan oleh Allah semata-mata untuk beribadah kepada-Nya. Jadi, segala aktivitas hidup harus diniatkan sebagai ibadah kepada Alllah agar mendapat kebahagiaan didunia dan diakhirat.

2. Pengertian dan Fungsi Syariah Muamalah
Secara harfiah syariah mengandung banyak pengertian. Sering kali, syraih berarti ketetapan dari Allah bagi hamba-hambaNya. Kadang-kadang, syariah juga berarti jalan yang ditemuh oleh manusia atau jaan menuju sumber air atau berarti jelas (Djazuli.2005:1). Meburut istilah para ulama, syariah adalah hukum yang ditetapkan allah untuk hambaNya yang dibawa oleh seorang Nabi. Hukum itu berhubungan dengan cara bertingkah laku yaitu yang disebut dengan hukum-hukum cabang(furu’) (Djazuli.2005:2)
Sementara menurut Mahmud Syaltut (1996:12), syariah adalah aturan atau pokok-pokok yang digariskan Allah sebagai pegangan manusia. Didalam syariah terkandung ajaran tentang hubungan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan saudaranya sesama muslim, serta manusia dengan alam dan kehidupan. Syariah dalam arti yang sempit sejajar dengan pengertian fiqh, yakni hukum yang ditunjukkan dengan tegas olwh Alqur’an dan hadits. Fiqh dalam pengertian sempit adalah ketetapan hukum yang dihasilkan melalui ijtihad para mujtahid. Jadi dpat disimpulkan, bahwa syariah adalah hukum yang ditetapkan dan diwahyukan oleh Allah kepada para rasul-Nya, yang mengatur aspek etika atau akhlak manusia kepada Allah (ibadah), manusia kepada manusia lain, dan manusia kepada alam sekitarnya sehingga kehiduoan didunia ini menjadi teratur,baik,dan mudah.
Syariah diturunkan oleh Allah kepada manusia sebagai jalan hidup (way of life) sehingga mereka selamat di dunia dan akhirat, serta untuk mempermudah, bukan mempersulit kehidupan mereka. Imam al-ghazali menegaskan tujuan syariah ini ketika mengatakan, “tujuan utama syariah adalah memelihara kesejahteraan manusia yang meliputi perlindungan iman, kehidupan sosial, akal, keturunan, dan harta benda mereka. Apa saja yang menjamin terlindunginya lima perkara ini merupakan kemaslahatan bagi manusia”.
Ekonomi Islam merupakan ilmu yang mempelajari perilaku ekonomi manusia yang perilakunya diatur berdasarkan aturan agama Islam dan didasari dengan tauhid sebagaimana dirangkum dalam rukun iman dan rukun Islam.Bekerja merupakan suatu kewajiban karena Allah swt memerintahkannya, sebagaimana firman-Nya dalam surat At Taubah ayat 105:
“Dan katakanlah, bekerjalah kamu, karena Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat pekerjaan itu.”
Karena kerja membawa pada keampunan, sebagaimana sabada Rasulullah Muhammad saw:
“Barang siapa diwaktu sorenya kelelahan karena kerja tangannya, maka di waktu sore itu ia mendapat ampunan.(HR.Thabrani dan Baihaqi)
Beberapa aturan dalam ekonomi islam adalah sebagai berikut :
a. Dalam kesempatan, dan setiap individu dapat menikmati keuntungan itu sesuai dengan kemampuannya.
b. Individu-individu memiliki kesamaan dalam harga dirinya sebagai manusia. Hak dan kewajiban ekonomi individu disesuaikan dengan kemampuan-kemampuan yang dimilikinya dan dengan peranan-peranan normatif masing-masing dalam struktur sosial.
c. Dalam Islam, bekerja dinilai sebagai kebaikan dan kemalasan dinilai sebagai kejahatan. Ibadah yang paling baik adalah bekerja dan pada saat yang sama bekerja merupakan hak dan sekaligus kewajiban.
d. Kehidupan adalah proses dinamis menuju peningkatan. Allah menyukai orang yang bila dia mengerjakan sesuatu melakukannya dengan cara yang sangat baik.
e. Jangan membikin mudarat dan jangan ada mudarat.
f. Suatu kebaikan dalam peringkat kecil secara jelas dirumuskan. Setiap muslim dihimbau oleh sistem etika (akhlak) Islam untuk bergerak melampaui peringkat minim dalam beramal saleh.
Mekanisme pasar dalam masyarakat muslim tidak boleh dianggap sebagai struktur atomistis, tapi akumulasi dan konsentrasi produksi mungkin saja terjadi, selama tidak melanggar prinsip-prinsip kebebasan dan kerjasama.
Dari segi teori nilai, dalam ekonomi Islam tidak ada sama sekali pemisahan antara manfaat normatif suatu mata dagangan dan nilai ekonomisnya. Semua yang dilarang digunakan, otomatis tidak memiliki nilai ekonomis.

3. Tujuan Ekonomi Islam
Segala aturan yang diturunkan Allah SWT dalam sistem Islam mengarah pada tercapainya kebaikan, kesejahteraan, keutamaan, serta menghapuskan kejahatan, kesengsaraan, dan kerugian pada seluruh ciptaan-Nya. Demikian pula dalam hal ekonomi, tujuannya adalah membantu manusia mencapai kemenangan di dunia dan di akherat.
Seorang fuqaha asal Mesir bernama Prof. Muhammad Abu Zahrah mengatakan ada tiga sasaran hukum Islam yang menunjukan bahwa Islam diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia, yaitu:
a. Penyucian jiwa agar setiap muslim bisa menjadi sumber kebaikan bagi masyarakat dan lingkungannya.
b. Tegaknya keadilan dalam masyarakat. Keadilan yang dimaksud mencakup aspek kehidupan di bidang hukum dan muamalah.
c. Tercapainya maslahah (merupakan puncaknya). Para ulama menyepakati bahwa maslahah yang menjad puncak sasaran di atas mencakup lima jaminan dasar:
i. keselamatan keyakinan agama ( al din)
ii. kesalamatan jiwa (al nafs)
iii. keselamatan akal (al aql)
iv. keselamatan keluarga dan keturunan (al nasl)
v. keselamatan harta benda (al mal)

4. Kemunculan dan Perkembangan Sistem Ekonomi Islam
Sebelum membahas sistem ekonomi Islam, kita harus merunut sejarah kelahiran ilmu ekonomi terlebih dahulu sebagai ilmu yang mempelajari perilaku Manusia dalam aktivitas ekonomi. Pada awalnya, ilmu ekonomi merupakan pemikiran para filsus didasarkan atas nilai-nilai etika dan moral mengenai aktivitas Manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pemikiran ini bersumber dari kitab , perenungan, pengalaman historis, dan nilai-nilai religius lainnya. Pada awal perkembangannya, pendekatan yang digunakan hanyalah pendekatan kualitatif. Pada perkembangan berikutnya, mulailah dipergunakan pendekatan kuantitatif.
Jadi, ilmu ekonomi pada awalnya merupakan ilmu etika moral (moral science). Etika moral yang dipergunakan bersumber pada nilai (ideologi) dan agama. Apabila nilai yang mendasari adalah kapitalis, maka lahirlah perilaku kapitalis, dan jika yang mendasarinya adalah ilmu sosialis maka akan lahir perilaku sosialis. Dan jika nilai yang mendasarinya adalah nilai Islam maka akan lahir ekonomi Islam. Apabila nilai yang mendasarinya adalah Pancasila maka akan lahir ilmu ekonomi Pancasila. Jadi, sistem-sistem ekonomi dibedakan sesuai dengan nilai-nilai etika yang mendasarinya.

5. Prinsip – prinsip ekonomi Islam
Karasteristik Ekonomi Islam bersumber pada Islam itu sendiri yang meliputi tiga asas pokok. Ketiganya secara asasi dan bersama mengatur teori ekonomi dalam Islam, yaitu asas akidah, akhlak, dan asas hukum (muamalah).
Ada beberapa Karasteristik ekonomi Islam sebagaimana disebutkan dalam Al-Mawsu’ah Al-ilmiah wa al-amaliyah al-islamiyah yang dapat diringkas sebagai berikut:
a. Harta Kepunyaan Allah dan Manusia Merupakan Khalifah Atas Harta. Karasteristik pertama ini terdiri dari 2 bagian yaitu :
Pertama, semua harta baik benda maupun alat produksi adalah milik Allah Swt, firman Q.S. Al- Baqarah, ayat 284 dan Q.S.Al -Maai’dah ayat 17.
Kedua, manusia adalah khalifah atas harta miliknya.Sesuai dengan firman Allah dalam QS. Al-Hadiid ayat 7.
Selain itu terdapat sabda Rasulullah SAW, yang juga mengemukakan peran manusia sebagai khalifah, diantara sabdanya ”Dunia ini hijau dan manis”.Allah telah menjadikan kamu khalifah (penguasa) didunia. Karena itu hendaklah kamu membahas cara berbuat mengenai harta di dunia ini. Dapat disimpulkan bahwa semua harta yang ada ditangan manusia pada hakikatnya milik Allah, akan tetapi Allah memberikan hak kepada manusia untuk memanfaatkannya.
Sesungguhnya Islam sangat menghormati milik pribadi, baik itu barang- barang konsumsi ataupun barang- barang modal. Namun pemanfaatannya tidak boleh bertentang an dengan kepentingan orang lain. Jadi, kepemilikan dalam Islam tidak mutlak, karena pemilik sesungguhnya adalah Allah SWT.

b. Ekonomi Terikat dengan Akidah, Syariah (hukum), dan Moral
Diantara bukti hubungan ekonomi dan moral dalam Islam (yafie, 2003: 41-42) adalah: larangan terhadap pemilik dalam penggunaan hartanya yang dapat menimbulkan kerugian atas harta orang lain atau kepentingan masyarakat, larangan melakukan penipuan dalam transaksi, larangan menimbun emas dan perak atau sarana- sarana moneter lainnya, sehingga mencegah peredaran uang, larangan melakukan pemborosan, karena akan menghancurkan individu dalam masyarakat.

c. Keseimbangan antara Kerohanian dan Kebendaan
Beberapa ahli Barat memiliki tafsiran tersendiri terhadap Islam. Mereka menyatakan bahwa Islam sebagai agama yang menjaga diri, tetapi toleran (membuka diri). Selain itu para ahli tersebut menyatakan Islam adalah agama yang memiliki unsur keagamaan (mementingkan segi akhirat) dan sekularitas (segi dunia). Sesungguhnya Islam tidak memisahkan antara kehidupan dunia dan akhirat.

d. Ekonomi Islam Menciptakan Keseimbangan antara Kepentingan Individu dengan
Kepentingan umum
Arti keseimbangan dalam sistem sosial Islam adalah, Islam tidak mengakui hak mutlak dan kebebasan mutlak, tetapi mempunyai batasan- batasan tertentu, termasuk dalam bidang hak milik. Hanya keadilan yang dapat melindungi keseimbangan antara batasan- batasan yang ditetapkan dalam sistem Islam untuk kepemilikan individu dan umum. Kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh seseorang untuk mensejahterakan dirinya, tidak boleh dilakukan dengan mengabaikan dan mengorbankan kepentingan orang lain dan masyarakat secara umum.

e. Kebebasan Individu Dijamin dalam Islam
Individu-individu dalam perekonomian Islam diberikan kebebasan untuk beraktivitas baik secara perorangan maupun kolektif untuk mencapai tujuan. Namun kebebasan tersebut tidak boleh melanggar aturan- aturan yang telah digariskan Allah SWT. Dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadis. Dengan demikian kebebasan tersebut sifatnya tidak mutlat.
Prinsip kebebasan ini sangat berbeda dengan prinsip kebebasan sistem ekonomi kapitalis maupun sosialis. Dalam kapitalis, kebebasan individu dalam berekonomi tidak dibatasi norma- norma ukhrawi, sehingga tidak ada urusan halal atau haram. Sementara dalam sosialis justru tidak ada kebebasan sama sekali, karena seluruh aktivitas ekonomi masyarakat diatur dan ditujukan hanya untuk negara.

f. Negara Diberi Wewenang Turut Campur dalam Perekonomian
Islam memperkenankan negara untuk mengatur masalah perekonomian agar kebutuhan masyarakat baik secara individu maupun sosial dapat terpenuhi secara proporsional. Dalam Islam negara berkewajiban melindungi kepentingan masyarakat dari ketidakadilan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang, ataupun dari negara lain. Negara juga berkewajiban memberikan jaminan sosial agar seluruh masyarakat dapat hidup secara layak.
Peran negara dalam perekonomian pada sistem Islam ini jelas berbeda dengan sistem kapitalis yang sangat membatasi peran negara. Sebaliknya juga berbeda dengan sistem sosialis yang memberikan kewenangan negara untuk mendominasi perekonomian secara mutlak.

g. Bimbingan Konsumsi
Islam melarang orang yang suka kemewahan dan bersikap angkuh terhadap hukum karena kekayaan, sebagaimana Firman Allah dalam QS. Al-Israa ayat 16

h. Petunjuk Investasi
Tentang kriteria atau standar dalam menilai proyek investasi, al-Mawsu’ah Al-ilmiyahwa-al amaliyah al-islamiyah memandang ada lima kriteria yang sesuai dengan Islam untuk dijadikan pedoman dalam menilai proyek investasi, yaitu:
a) Proyek yang baik menurut Islam.
b) Memberikan rezeki seluas mungkin kepada anggota masyarakat.
c) Memberantas kekafiran, memperbaiki pendapatan, dan kekayaan.
d) Memelihara dan menumbuhkembangkan harta.
e) Melindungi kepentingan anggota masyarakat.

i. Zakat
Zakat adalah salah satu karasteristik ekonomi Islam mengenai harta yang tidak terdapat dalam perekonomian lain. Sistem perekonomian diluar Islam tidak mengenal tuntutan Allah kepada pemilik harta, agar menyisihkan sebagian harta tertentu sebagai pembersih jiwa dari sifat kikir, dengki, dan dendam.

j. Larangan Riba
Islam menekankan pentingnya memfungsikan uang pada bidangnya yang normal yaitu sebagai fasilitas transaksi dan alat penilaian barang. Diantara faktor yang menyelewengkan uang dari bidangnya yang normal adalah bunga (riba). Ada beberapa pendapat lain mengenai karasteristik ekonomi Islam, diantaranya dikemukakan oleh Marthon (2004,27-33)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: