QARDH

A. Definisi Qardh.
Kata Qardh diadopsi oleh beberapa bahasa, diantaranya: credo (romawi), credit (Inggris), dan kredit (Indonesia). Qardh adalah memberikan (menghutangkan) harta kepada orang lain tanpa mengharapkan imbalan, untuk dikembalikan dengan pengganti yang sama dan dapat ditagih atau diminta kembali kapan saja penghutang menghendakinya. Qardh merupakan pembiayaan yang dialokasikan untuk pembelian barang-barang fungible (yaitu barang yang dapat diperkirakan dan diganti sesuai berat, ukuran, dan jumlahnya). Objek dari pinjaman qardh biasanya adalah uang atau alat tukar lainnya (Saleh, 1992) yang merupakan pinjaman murni, artinya peminjam hanya berkwajiban mengembalikan sesuai dengan apa yang dipinjam walaupun tidak menutup kemungkinan si peminjam atas prakarsa sendiri dapat mengembalikan lebih besar sebagai ucapan terima kasih.

B. Landasan Hukum
Transaksi qardh diperbolehkan oleh para ulama berdasarkan hadits riwayat Ibnu Majjah dan Ijma ulama. Dengan demikian, Allah SWT mengajarkan kepada kita agar meminjamkan sesuatu bagi “agama Allah”.
a. Al-Qur’an

“Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, Maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan Dia akan memperoleh pahala yang banyak”(Al-Hadid:11)

b. Al-Hadits
Ibnu Mas’ud meriwayatkan bahwa Nabi saw. berkata,”Bukan seorang muslim (mereka) yang meminjamkan muslim (lainnya) dua kali kecuali yang satunya adalah (senilai) sedekah” (HR Ibnu Majah no.2421, kitab al-Ahkam; Ibnu Hibban dan Baihaqi)

c. Ijma
Para ulama telah menyepakati bahwa qardh boleh dilakukan. Kesepakatan ulama ini didasari tabiat manusia yang tidak bisa hidup tanpa pertolongan dan bantuan saudaranya. Oleh karena itu, pinjam-meminjam sudah menjadi suatu bagian dari kehidupan di dunia ini. Islam adalah agama yang sangat memoerhatikan segenap kebutuhan umatnya.

C. Rukun dan Syarat Qardh.
Rukun dan Syarat Qardh ada empat, diantaranya:
a. Muqridh (pemberi hutang).
– Pemberi hutang harus seorang Ahliyat at-Tabarru’ (layak bersosial), maksudnya orang yang mempunyai kecakapan dalam menggunakan hartanya secara mutlak menurut pandangan syariat.
– Tidak adanya paksaan (Ikhtiyar), seorang muqridh dalam memberikan bantuan hutang harus didasarkan atas keinginannya sendiri dan tidak ada paksaan dari pihak lain.
b. Muqtaridh (orang yang berhutang)
orang yang berhutang haruslah orang yang Ahliyah mu’amalah, artinya orang tersebut harus baligh, berakal waras, dan tidak mahjur (bukan orang yang oleh syariat tidak diperkenankan mengatur sendiri hartanya karena factor-faktor tertentu)
c. Muqtaradh/Ma’qud ‘Alaih (barang yang dihutang)
Barang yang dihutang harus sesuatu yang bisa diakad salam. Segala sesuatu yang bisa diakad salam, juga sah dihutangkan, begitu juga sebaliknya.
d. Shighat ‘Ijab qabul (ucapan serah terima)
Ucapah serah terima harus jelas dan bisa dimengerti oleh kedua belah pihak, sehingga tidak menimbulkan kesalah pahaman dikemudian hari.

D. Hukum Memberi Hutang
Dalam memberi hutang hukumnya berbeda-beda, tergantung kepada latar belakang dan kondisinya.
• Sunah, ecara umum member hutang itu sunah karena member hutang merupakan salah satu cara membantu orang lain.
• Wajib, ini berlaku jika oramg yang hendak berhutang berada dalam keadaan darurat bagi kelangsungan hidupnya.
• Haram, jika orang yang member hutang yakin bahwa orang yang diberi hutangan akan menggunakannya untuk kemaksiatan. Berlaku haram juga ketika orang yang akan berhutang yakin bahwa dirinya tidak akan bisa melunasi, sementara dirinya tidak berada dalam keadaan dharurat.

E. Aplikasi Qardh dalam LKS
Aplikasi Qardh dalam LKS, biasanya dilakukan dalam hal berikut:
1. Sebagai produk pelengkap kepada nasabah yang telah terbukti loyalitas dan bonafiditasnya. Nasabah tersebut membutuhkan dana cepat dalam masa yang relative pendek.
2. Sebagai fasilitas kepada nasabah yang membutuhkan dana cepat sedangkan ia tidak bisa menarik dananya.
3. Sebagai penyumbang usaha yang sangat kecil, atau untuk membantu sector social (qardh hasan).
4. Sebagai talangan haji, dimana nasabah calon haji diberikan pinjaman talangan untuk memenuhi syarat penyetoran biaya perjalanan haji. Nasabah akan melunasinya sebelum keberangkatannya naik haji .
5. Sebagai pinjaman tunai (cash advance) dari produk kartu kredit syariah. Nasabah akan mengembalikannya sesuai waktu yang ditentukan.
6. Sebagai pinjaman kepada pengurus bank, dimana bank menyediakan fasilitas ini untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan pengurus bank. Pengurus bank akan mengembalikan dana pinjaman dana itu secara cicilan melalui pemototngan gajinya.

Untuk mengetahui aplikasi akad Qarh di Bank Syariah, kami melakukan observasi/wawancara langsung ke pihak BNI Syariah cabang Fatmawati dan BRI Syariah cabang BSD. Dari hasil wawancara kami dengan pihak BNI Syariah cabang Fatmawati, dikatakan bahwa :
Qardh merupakan salah satu akad yang dipakai dalam produk rahn dan Hasanah card (kartu kredit).
Selain itu, Qardhul Hassan sebagai pinjaman kebaikan juga diberikan kepada karyawan atau pegawai yang kurang mampu dan membutuhkan dana cepat tetapi tidak untuk masyarakat umum. Hal ini dilakukan karena berbagai pertimbangan resiko dari pihak bank, dan meminimalisir adanya kredit macet disebabkan karena dalam qardh ini tidak ada jaminan. Selain itu, untuk menangani pembiayaan qardh dibutuhkan tim khusus dan ini tentunya membutuhkan banyak biaya dan tenaga kerja, oleh karena itulah qardhul hassan belum dipublikasikan untuk umum. Adapun pembiayaan yang disalurkan rata-rata berkisar Rp 1.000.000 – Rp 2.000.000, sedangkan untuk pembayaran atau cicilannya pihak bank mempunyai kebijakan melakukan pemotongan setiap bulannya terhadap gaji pegawai yang memanfaatkan fasilitas qardh ini. Besar kecilnya pembayaran cicilan tergantung kepada besarnya pembiayaan yang diberikan dan gaji utuh yang diterima oleh pegawai setiap bulannya. Pihak bank BNI Syariah cabang Fatmawati memanfaatkan dana BAZIS untuk pembiayaan qardh ini.
Sementara itu praktek akad Qardh di BRI Syariah cabang BSD hanya digunakan untuk Dana Talangan Haji. Dana talangan haji di BRI SYariah merupakan layanan pinjaman (qardh) untuk perolehan porsi pelaksanaan ibadah haji. Syarat dan ketentuan:
• Perorangan
• Usia minimal pada saat pinjaman diberikan adalah 21 tahun, atau sudah menikah sesuai ketentuan yang berlaku pada saat jatuh tempo pinjaman usia maksimum 65 tahun.
• Membuka tabungan haji iB dengan saldo minimal Rp 2.050.000,-
• Menandatangani Surat Permohonan Pembatalan Porsi Haji yang ditujukan kepada Departemen Agama
• Menandatangani Surat Kuasa kepada Bank untuk membatalkan Porsi Haji jika Wan Prestasi.
• Menandatangani Surat Kuasa Debet Rekening untuk pembayaran pokok pinjaman.
• Biaya administrasi sesuai jangka waktu pinjaman dan dibayar di muka:
Jangka Waktu Biaya Administrasi
3, 6 dan 12 bulan Rp 150.000,-
18 dan 24 bulan Rp 250.000,-
30 dan 36 bulan Rp 300.000,-
• Upah (ujroh) pengurusan talangan haji dibayar dimuka
• Dokumen yang dilengkapi:
Dokumen (fotokopi) Pegawai Pengusaha Profesional
KTP yang masih berlaku (sumai/istri) v v V
Kartu Keluarga dan Surat Nikah v v V
Untuk pinjaman diatas Rp 60 juta:
• Slip Gaji terakhir
• Rekening koran/tabungan 3 bulan terakhir
• NPWP
• Surat keterangan penghasilan
v
v

v

v

v
v

v

v
v

• Di BRI Syariah tidak ada agunan (jaminan) berupa Fixed Asset/Cash Collateral/Kendaraan/Barang lainnya. Namun sebagai ganti jaminan, maka:
a. SPPH (Surat Pendaftaran Pergi Haji) ditahan oleh Bank sampai dengan nasabah melunasi pinjaman.
b. Print Out bukti pembayaran Booking Seat ke Departemen Agama, ditahan oleh Bank sampai dengan melunasi pinjaman
c. Surat kuasa dari nasabah untuk pengurusan pembatalan porsi haji, jika nasabah Wan Prestasi
d. Surat permohonan dari nasabah yang ditujukan kepada Departemen Agama untuk pembatalan porsi Haji.
• Nasabah tidak diperkenankan mencairkan Rekening Tabungan Haji untuk menyetorkan sisa pembayaran BPIH ke Departemen Agama selama pinjaman talangan haji belum dilunasi. Dan nasabah harus menandatangani Surat Kuasa Bloki Rekening Tabungan Haji.

F. Sumber Dana Qardh
Qardh dan turunannya Qardhul hasan merupakan satu-satunya akad yang berbentuk pinjaman yang sifatnya social, artinya dalam pinjaman ini tidak ada bunga (berbentuk kebajikan). Oleh karena itu, pendanaanya diambil menurut kategori berikut:
1. Qardh yang diperuntukkan bagi nasabah yang butuh dana cepat dalam jangka pendek dapat diambilkan dari modal LKS yang bersangkutan.
2. Qardh yang diperlukan untuk membantu usaha sangat kecil dan keperluan social dapat bersumber dari dana zakat, infak dan sedekah.

G. Manfaat Qardh
Manfaat Qardh banyak sekali, diantaranya:
1. Memungkinkan bagi nasabah yang butuh dana cepat dalam rangka yang relative pendek, sehingga dapat menghidupkan kembali usahanya.
2. Qardh hasan juga salah satu pembeda antara LKS (Lembaga Keuangan Syariah) dengan LKK (Lembaga Keuangan Konvensional). Dalam LKS terkandung misi social oriented disamping misis komersil yang dikenal dengan hasan (profit oriented) dan itu tidak disyaratkan di dalam akad.
3. Adanya misi social kemasyarakatan akan menjadi nilai positif sehingga dapat meningkatkan citra baik dan loyalitas masyarakat terhadap LKS, yang pada akhirnya saling menguntungkan, serta dapat menghidupkan ekonomi masyarakat sebagai nasabah dan LKS sebagai penyalur pembiayaan. Dari sini akan tercipta sinergi positif antara LKS dengan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: