ASURANSI SYARIAH

PEMBAHASAN
1. Pengertian asuransi konvensional dan asuransi syari’ah
a) Pengertian asuransi konvensional
Asuransi adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa Belanda yaitu assurantie (asuransi) dan varzekering yang artinya pertanggungan, atau dari bahasa Inggris yaitu assuransce/insuranse.
Pengertian asuransi dlama undang-undang RI No.2 tahun 1992 tentang usaha perasuransian Bab I pasal 1, “ Asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih dengan mana pihak penanggung mengikat diri kepada tertanggung dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, atau tanggung jawab hukum kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggunng yang timbul dari suatu pristiwa yang tidak pasti, atau untuk memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang yang dipertanggungkan”.
Menurut Kitab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD) pasal 246 adalah “ suatu perjanjian ( timbal balik ), dengan mana seseorang penanggung mengikatkan diri kepada seorang tertanggung, dengn menerima suatu premi, untuk memberikan penggantian kepadanya, karena suatu kerugian, kerusakan, atau kehilangan keuntungan yang diharapkan, yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa tak tentu”.
b) Pengertian asuransi syari’ah
Dalam bahasa Arab kata asuransi disebut dengan at-ta’min yang asal katanya dari kata amana yang mempunyai arati perlindungan, ketenangan, rasa aman, dan bebas dari rasa takut, sedangkan penanggung berasal dari kata mu’amin dan tertanggung disebut mu’amman lahu atau musta’min.
Sedangkan pengertian asuransi dalam Ensiklopedi hukum islam adalah “ transaksi perjanjian antara dua pihak, pihak yang satu berkewajiban membayar iuran dan pihak yang lain berkewajiban memberikan jaminan sepenuhnya kepada pembayar iuran jika terjadi sesuatu yang menimpa pihak pertama sesuai dengan perjanjian yang dibuat “.
2. Landasan hukum asuransi konvensional dan asuransi syari’ah
a. Landasan hukum asuransi konvensional
Landasan hukum asuransi konvensional yang diatur di negara Indonesia berdasarkan :
• Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) pasal 246
• Undang-Undang Republik Indonesia No. 2 tahun 1992 Bab 1 pasal 1 tentang usaha perasuransian
• Peraturan pemerintah No. 63 tahun 1999 yang telah diubah dari peraturan pemerintah No. 73 Tahun 1992 tentang penyelenggaraan usaha perasuransian
• Keputusan menteri keuangan RI No. 421/KMK.06/2003, tentang penilaian kemampuan dan kepatutan bagi direksi dan komisaris perusahaan dan perasuransian
• Keputusan menteri keuangan No. 422/KMK. 06/2003, tentang penyelenggaraan usaha perusaan asuransi dan perusahaan reasuransi
• Keputusan menteri keuangan No. 423/KMK. 06/2003, tentang pemeriksaan perusahaan perasuransian
• Keputusan menteri keuangan No. 424/KMK. 06/2003, tentang kesehatan keuangan perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi
• Keputusan menteri keuangan No. 425/KMK. 06/2003, tentang perizinan dan penyelenggaraan kegiatan usaha perusahaan penunjang usaha asurasi
• Keputusan menteri keuangan No. 426/KMK. 06/2003, tentang perizinan uasha dan kelembagaan perusahaan asuransi dan perusahaan reasuransi
a. Landasan hukum asuransi syari’ah
Konsep dalam asuransi syari’ah berdasarkan dalam konsep takaful, dimana takaful berlandaskan rasa tanggung jawab dan persaudaraan. Dalam ilmu tashrif atau sharaf takaful termasuk kedalam bina muta’adi yaitu tafaa’aala yang mempunyai arti saling menenggung atau saling menjamin.
Landasan asuransi syari’ah yang bersumber dari sunnah :
• “ Kedudukan hubungan persaudaraan dan perasaan orang-orang yang beriman antra satu dengan yang lainnya sepeerti satu tubuh, apabila salah satu anggota tubuhny sakit maka seluruh anggota tubuh lainnya ikut merasakannya”. ( HR. Bukhori dan muslim )
• “ Sesungguhnya seseorang yang beriman itu ialah barang siapa yang memberi keselamatan dan perlindungan harta dan jiwa manusia”. ( HR. Ibnu Majah )
• “ setiap orang dari kamu adalah pemikul tanggung jawab, dan setiap kamu bertanggung jawab atas oragng-orang yang berada dibawah tanggung jawabnya”. ( Bukhori dan Muslim )
Landasan hukum positif asuransi Syari’ah :
• Fatwa Dewan Syari’ah Nasional Nomor : 21/DSN-MUI/X/2001 tentang Pedoman Umum Asuransi Syari’ah. Dalam fatwa ini disebutkan beberapa prinsip umum tentang asuransi Syari’ah disamping akad dalam asuransi Syari’ah.
• Secara umum, peraturan landasan hukum asuransi Syari’ah pada dasarnya sama dengan yang berlaku pada asuransi konvensional karena hal-hal yang berkenaan dengan administrasi dan sistem laporannya.
3. Prinsip-prinsip asuransi syari’ah
Prinsip-prinsip umum mu’amalat yang melandasi asuransi syari’ah
a. Tauhid (Ketaqwaan)
Allah selalu menyuruh umutnya dalam bermu’amalat yang akan menumbuhkan ketakwaan kepada Allah, karena ketika seorang muslim bermuamalat bahwa apa yang dikerjakannya merupakanibadah kepada Allah, yang akan menambah ketakwaankepada-Nya.
b. Al-‘Adl (Sikap Adil)
Salah satu pilar penyangga kebebasan ekonomi adalah dengan keadilan, sikap adil sangat dibutuhkan dalam bisnis syari’ah karena implementasi keadilan sangat berat diterapkan. Sikap adil dibutuhkan saat pembagian nisbah bagi hasil mudhorobah, musyarakah, wakalah, wadi’ah dan lainnya. Dalam asuransi sikap adil diterapkan dalam pembagian surplus underwriting, dan bagi hasil investasi antara perusahaan dan peserta. Dan keadilan juga harus dilakukan dalam pemenuhan hak pekerja dalam pembayaran upah.

c. Adz-Dzulm (Kedzaliman)
Kedzaliman adalah kebalikan dari keadilan, Allah sangat mengecam keras perbuatan ini bila diterapkan dalam bisnis. Oleh karena itu sebisa mungkin para pelaku bisnis menghindarinya jangan sampai menimbulkan kerugian bagi orang lain.
d. At-Ta’awun (Tolong-Menolong)
Ta’awun menjadi pilar selanjutnya dalam mu’amalat karena ta’awun dapat membangun fondasi yang kokoh dalam sistem ekonomi. Dan ta’awun menjadi konsep utama dari takaful atau asuransi islam. Islam mengharamkanriba karenaingin menghidupkan sikap ta’awun.
e. Al-Amanah (Terpercaya/Jujur)
Nilai paling penting dalam transaksi bisnis adalah sikap kejujuran. Prinsip amanah juga harus diimbangi dengan sikap profesionalisme karena ini berpengaruh dalam penepatan seseorang sesuai dengan keahlian dan kemampuannya.
f. Ridho (Suka sama suka)
Dalam transaksi mu’amalat perlu adanya suka sama suka karena tanpa keridhoan antara keduanya maka seluruh akad menjadi batal. Jadi ridhomenjadi syarat sahnya suatu transaksi mu’amalat.
g. Riswah (Sogok/Suap)
Dalam tatanan kehidupan perekonomian sangat berat dalam implementasikanny dilihat dari kultur budaya korupsi yang sangatkental di Indonesia karena riswan akanmerusaktatanan profesionalisme dalam bisnis.
h. Maslahah (Kemaslahatan)
Islam memberikan kemudahan kepada umtnya karena bila dalam keadaan darurat segala hal yang diharamkan menjadi bolehasalkan sesuai dengan ketentuandan melebihi batas.
i. Khitman (Pelayanan)
Dalam menjalankan bisnis ekonoi kita harus memberikan pelayanan yang terbaik untuk pelanggan karena pelayanan yang baik mencerminkan perilaku luhur warisan nabi.

j. Tathfif (Kecurangan)
Kecurangan biasa sering terjadi dalm transaksi bisnis misalkan saja dalam pengurangan timbangan, menentukan rate,menetapkan klaim asuransi, menaksir suatu barang,hendakanay bisnis dilakukan dengan adil, jujur dan transparan agar dapat diridhoi oleh Allah.
k. Gharar, Maysir, Riba
Ketiga sifat ini adalah hal yang paling dihindari dalam proses transaksi syari’ah
4. Macam-macam asuransi syari’ah
Dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 2 tahun 1992 tentang usaha perasuransian, bahwasanya asuransi dibedakan kedalam dua jenis, yaitu asuransi jiwa (life insurance) dan asuransi umum (general asuransi) yang dikenal dengan sebutan asuransi kerugian (property insurance).
Didalam asuransi syari’ahpun terdapat dua jenis asuransi, sama seperti jenis asuransi yang terdapat dalam asuransi konvensional, yaitu asuransi syari’ah umum atau disebut juga dengan asuransi syari’ah kerugian yang biasa disebut dengan sebutan ta’min al-dharar dan asuransi syari’ah jiwa atau disebut juga dengan asuransi keluarga yang biasa disebut dengan ta’min al-syakhash. Asuransi syari’ah umum ialah suatu bentuk asuransi syari’ah yang memberikan perlindungan untuk perorangan, perusahaan, yayasan, lembaga atau badan hukum lainnya dalam menghadapi suatu kerugian disebabkan karena bencana seperti kebakaran, kehilangan dan lain sebagainya serta kecelakaan yang menimpa harta benda atau barang-barang yang dimilik peserta asuransi. Sedangkan, yang dimaksud dengan asuransi jiwa atau asuransi keluarga ialah suatu bentuk asuransi syari’ah yang memberikan suatu perlindungan kepada peserta asuransi syari’ah dalam menghadapi musibah, seperti kematian atau kecelakaan.
Dari pengertian kedua bentuk asuransi di atas dapat disimpulkan bahwasannya yang diasuransikan dalam asuransi syari’ah umum atau kerugian adalah harta yang dimiliki oleh peserta asuransi dan bentuk asuransi inipun tidak hanya ditawarkan untuk perorangan saja tetapi juga untuk badan hukum, sedangkan yang diasuransikan dalam asuransi syari’ah jiwa atau keluarga adalah diri atau jiwa peserta asuransi dan bentuk asuransi ini hanya ditawarkan atau ditujukan untuk perorangan saja.
Kedua bentuk atau jenis asuransi diatas dalam prakteknya di Indonesia dibuat menjadi dua perusahaan yang terpisah, yaitu PT. Asuransi Takaful Keluarga (Asuransi Jiwa) dan PT. Asuransi Takaful Umum (Asuransi Kerugian). Kedua perusahaan perasuransian tersebut berada di bawah naungan PT. Syarikat Takaful Indonesia sebagai holding company dari kedua perusahaan tersebut. Pembentukan kedua anak perusahaan di bawah PT. Syarikat Takaful itu dikarenakan untuk mengikuti Undang-Undanng Nomor 2 Tahun 1992 tentang usaha perasuransian, dimana harus didirikan dan dioperasikan secara terpisah antara perusahaan asuransi umum atau kerugian dengan perusahaan asuransi jiwa atau keluarga sesuai dengan aturan-aturan umum kedua jenis atau bentuk asuransi syari’ah tersebut.
Bentuk asuransi syari’ah umum (kerugian) dilakukan menurut aturan-aturannya sebagai berikut :
a) Peserta dapat terdiri dari perorangan, perusahaan, yayasan atau badan hukum lainnya
b) Perjanjian kerjasama antara perusahaan dan peserta asuransi syari’ah berdasarkan dengan prinisip mudharabah
c) Besarnya premi yang dibayarkan tergantung dari jenis asuransi apa yang dipilih, dan setoran premi dibayarkan pada waktu awal kontrk dibuat. Jangka waktu pertanggungan satu tahun, dan apabila diperpanjang untuk tahun berikkutnya harus diperbaharui
d) Seluruh premi asuransi dikumpulkan menjadi satu kumpulan dana yang kemudian diinvestasikan kedalam pembiayaan-pembiayaan atau proyek-proyek lain yang sejalan dan dibenarkan syari’ah
e) Keuntungan dari hasil investasi akan dikereditkan dalam kumpulan dana peserta
f) Apabila terjadi musibah atas harta benda peserta yang diasuransikan, maka perusahaan membayarkan ganti rugi atau santunan yang di ambil dari kumpulan dana peserta asuransi syari’ah umum
g) Biaya-biaya yang diperlukan oleh perusahaan diambil dari kumpulan dana peserta.
Bentuk asuransi syari’ah jiwa (keluarga) dilakukan menurut aturan-aturan sebagai berikut :
a) Peserta asuransi bebas memilih salah satu dari jenis atau produk asuransi jiwa/keluarga yang ada, umur peserta 18-50 tahun dan masa klaim berakhir sebelum mencapai umur 60 tahun
b) Perjanjian kerjasama antara perusahaan dan peserta asuransi syari’ah berdasarkan dengan prinisip mudharabah, dan dinyatakan hak dan kewajiban antara kedua belah pihak
c) Besarnya penyerhan premi sesuai dengan kemampuan peserta asuransi, tetapi tidak boleh kurang dari jumlah premi minimal yang telah ditetapkan oleh perusahaan
d) Setiap premi yang dibayarkan dibagi kedalam dua rekening, yaitu rekening peserta dan rekening derma (Tabarru’ atau charity account), prosentasenya berdasarkan dan ditentukan dengan kelomppok umur dari peserta dan jangka waktu pertanggung
e) Seluruh premi asuransi dikumpulkan menjadi satu kumpulan dana yang kemudian diinvestasikan kedalam pembiayaan-pembiayaan atau proyek-proyek lain yang sejalan dan dibenarkan syari’ah
f) Keuntungan dari hasil investasi akan dibagi dengan peserta sesuai dengan perjanjian mudharabah yang telah disepakati di awal
g) Keuntungan bagian peserta akan dikreditkan ke dalam rekening peserta dan rekening derma secara proporsional
5. Produk-produk dalam asuransi syari’ah
Produk-produk asuransi syari’ah umum :
 Asuransi kendaraan bermotor
 Asuransi kebakaran
 Asuransi kecelakaan diri
 Asuransi penyimpanan uang
 Asuransi lainnya, seperti asuransi pemilik dan penghuni rumah, asuransi kehilangan keuntungan akibat kerusakan mesin an lain sebagainya

Produk-produk asuransi syari’ah jiwa atau keluarga :
 Asuransi dana investasi
 Asuransi dana siswa
 Asuransi dana haji
 Asuransi kesehatan
 Asuransi wisata dan umrah
 Asuransi perjalanan haji
 Asuransi kecelakaan diri
6. Underwriting, polis, premi
Underwriting dalam asuransi syari’ah adalah proses seleksi untuk menetapkan jenis penawaran risiko yang harus diterima bila diakseptasi, rate, syarat, dan kondisinya harus dapat ditentukan. Underwriting menjalankan proses penyelesaian dan mengelompokan berbagai risiko yang diperhitugkan akan menghasilkan laba.
Underwriting dalam pengertian asuransi jiwa adalah proses penaksiran mortalitas dan morbiditas calon tertangguang untuk menetapkan apakah akan menerima atau menolak calon peserta dan menetapkan klasifikasi peserta. Mortalitas adalah jumlah kejadian meninggal relatif diantara sekelompok orang tertentu, sedangkan morbiditas adalah jumlah kejadian relatif sakit atau penyakit diantara sekelompok orang tertentu.
Tiga konsep penting dalam underwriting, yaitu
• Kemungkinan menderita kerugian (chance of loss) probabititas berdasarkan kejadian dimasa lalu.
• Tingkat risiko (degree of risk), yaitu ketidakpastian atau kerugian dimasa datang yang sulit diramalkan.
• Hukum bilangan besar (law of large number),yakni makin banyak objek yang hampir sama, semakin baik bagi perusahaan.

Tugas underwriting
Tugasnya antara lain mengatur pengguanaan dana seefektif dan seefisien mungkin untuk menghasilkan laba yang maksimal, peran lainnya yaitu
• Mempertimbangkan risiko yang diajukan
• Memutuskan untuk menerima atau menolak risiko yang diajukan
• Menentukan syarat dan beberapa ketentuan serta lingkup ganti rugi
• Mengenakan biaya upah pada dana kontribusi peserta
• Mempertahankan, meningkatakan, dan mengamankan margin profit

Sasaran underwriting perusahaan adalah menyetujui dan menerbitkan polis, yang :
• Adil bagi nasabah
• Dapat dijual oleh agen
• Menguntungkan bagi perusahaan
Selain tugas tersebut tugas lain dari underwriting adalah melindungi perusahaan terhadap seleksi kerugian. Agar dapat diterima calon pembeli, polis harus memenuhi tiga syarat berikut :
• Polis harus menyediakan benefit yang memenuhi kebutuhan pembeli
• Premi yang ditetepkan oleh polis harus dalam batas kemampuan keuangan pembeli
• Premi yang dibebankan untuk asuransi harus bersaing dengan pasar
Dua hal yang perlu diwaspadai oleh underwriting adalah
• Karakteristik risiko fisik harus di- underwrite berdasarkan pedoan dan prosedur akseptasi
• Moral hazard,yaitu sifat manusia yang umumnya tidak stabil dan sulit dideteksi
Underwriting menolak suatu risiko karena merasa hazard yang berhubungan dengan risiko terlalu tinggi sehingga tarif juga akan terlalu tinggi
Jenis-jenis risiko yang mepengaruhi underwriting
Sebelum menetapkan suatu kondisi underwriting terhadap calon tertanggung, underwriter harus mempertimbangkannya dari segi pengaruh risiko dan jenis polis yang diinginkan calon tertanggung. Jenis-jenis risiko yang mempengaruhi penetapan underwriting sebagai berikut.
• Increasing risk (risiko menarik) ada beberapa penyakit tertentu misal besarnya risiko akan bertambah berat sesuai kenaikan umur calon tertangguang
• Risiko yang dialami terlalu tinggi pada tahun-tahun pertama polis. Makin lama berjalan risiko semkin menurun
• Constant eksta risk (risiko ekstra yang menetap). Pada jenis ini risiko tabahan berada pada tingkat yang tetep selama masa pertanggungan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi mortalitas :
• Usia
• Bentuk ukuran tubuh
• Riwayat hidup
• Kondisi fisik
• Pekerjaan
• Keadaan ekonomi
• Tempat tinggal kebiasaan
Underwriting syari’ah
Prinsip underwriting dalam asuransi syari’ah dan konvensional sebebenarnya sama. Namun dalam asuransi syari’ah untuk menyeleksi risiko secara implisit tergabung dua elemen penting yaitu seleksi dan pengklasifikasian. Seleksi adalah proses perusahaan dalam mengevaluasi permintaan asuransi oleh calon peserta untuk menentukan batas risiko yang dimiliki calon. Pengklasifikasian adalah proses penetapan individu kedalam kelompok individu yang sekiranya mempunyai kemungkinan kerugian sama. Namun, penekanan utama underwriting adalah harus bersifat wasathon yang penekanan pada rasa keadilan bagi nasabah dan perusahaan.
Premi
Premi merupakan pembayaran sejumlah uang yang dilakuakn pihak tertanggung kepada pihak penanggung untuk mengganti suatu kerugian, kerusakan, atau kehilangan keuntungan yang diharapkan akibat timbulnya perjanjian atas pemindahan risiko dari tertangguang kepada penanggung (transfer of risk)
Besarnya premi ditentukan oleh hasil seleksi risiko yang dilakuakan underwriter setelah perusahaan melakukan seleksi risiko atas permintaan calon tertanggung. Dengan demikian calon tertangguang akanmembayar premi sesuai dengan tingkat risiko atas kondisi masing-masing
Sumber perhitungan premi didasarkan atas produk
• Produk pension dilihat dari table anuitas
• Risiko meninggal dilihat dari table mortalitas
• Kesehatan dilihat dari table morbiditas
• General insurance dilihat dari tebel statistik
Penentuan tarif premi yang ideal adalah tariff yang bias menutupi klaim serta berbagai biaya asuansi dan sebagainay dari jumlah peneriaan perusahaan (keuntungan)
Klaim
Klaim adalah pengajuan hak yang dilakuakan oleh tertanggung kepada penanggung untuk mendapatkan haknya berupa pertanggung atas kerugian berdasarkan perjanjian akad yang telah dibuat, dengan kata lain klaim adalah proses pengajuan oleh peserta untuk mendapatkan uang pertanggungan setelah tertangung melaksanakan seluruh kewajiban kepada penanggung.
Klaim pada asuransi syari’ah
Pembayaran kalim pada asuransi syari’ah dari dana tabbaru’ semua peserta. Perusahaan sebagai mudhorib wajib menyelesaikan proses klaim secara cepat, tepat dan efisien sesuai dengan amanah yang diterimanya.

Jenis-jenis kerugian dapat digolongkan menjadi tiga :
• Kerugian seluruhnya
• Kerugian sebagian
• Kerugian pihak ketiga

Prosedur pengajuan klaim
• Pemberitahuan klaim
• Bukti klaim kerugian
• Penyelidikan
• Penyelesaian klaim

7. Problematika dalam asuransi syari’ah
Dalam asuransi syari’ah masih terdapat problem atau kelemahan yang dapat ditemukan, antara lain :
 Kelemahan dalam bidang birokrasi
Kelemahan dalam bidang birokrasi ini sering kali muncul ketika akan mendirikan lembaga keuangan syari’ah, dikarenakan lembaga keuangan syari’ah seperti asuransi syari’ah bagi beberapa birokrasi masih asing bagi mereka dan disebabkan pula karena belum pahamnya dan belum terbiasanya mengurus lembaga keuangan syari’ah, dikarenakan itulah maka dampaknya akan menyebabkan kelambanan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan birokrasi yang harus ditempuh.
 Kelemahan dalam sumber daya manusianya
Asuransi syari’ah merupakan perusahaan yang masih sangat muda yang berkembang di Indonesia dan merupakan hal yang masih terbilang baru bagi masyarakat Indonesia, dikarenakan ketidaksiapan masyarakat Indonesia khususnya umat Islam untuk mengembangkanya, maka asuransi syariah terasa lamban dalam perkembangannya. Banyak dari sumber daya manusia yang memahami tentang perasuransian tetapi tidak memahami akan hukum Islam, dan adapula yang memahami hukum Islam tetapi tidak memahami tentang perasuransian, faktor-faktor itulah yang menyebabkan perusahaan asuransi syari’ah kesulitan dalam merekrut tenaga kerja secara edukatif.
 Lemahnya respon dari masyarakat Indonesia dan kurangnya sosialisasi asuransi syari’ah itu sendiri
Karena masyarakat kurang mengenal asuransi syari’ah baik dalam prinsip operasional dan produk yang ditawarkan, maupun dalam hal menejeman dan prosedur asuransi, oleh karena itu masyaakat masih merasa kesulitan ketika akan berhubungan dengan asuransi syari’ah yang menyebabkan perkembangan asuransi syari’ah terasa lamban. Selain itu dua factor yang menghambat perkembangan asuransi syari’ah yakni belum tingginya kesadaran masyarakat mengenai perlunya asuransi dan kurang memahaminya sistem ekonomi Islam itu sendiri. Kurangnya instrument pendukung yaitu sarana dan prasarana untuk mengoperasionalkan perusahaan asuransi masih kurang.
8. Akad-akad dalam asuransi syari’ah
Dalam asuransi syari’ah akad yang dipergunakan adalah akad tabarru’ dan akad tijarah, yang dimaksud dengan akad tijarah diantaranya mudharabah, musyarakah, wadi’ah, wakalah, dan lain sebagainya. Dan sedikit penjelasan sebagai berikut :
a) Aplikasi dari akad mudharabah
Akad mudharabah diaplikasikan dalam asuransi syari’ah adalam dua keadaan, yaitu dalam penyerahan premi oleh peserta asuransi kepada perusahaan asuransi dan dalam investasi dari perusahaan asuransi kepada investor.
Dalam keadaan pertama, peserta asuransi sebagai pihak shahibul mal dan perusahaan asuransi bertindak sebagai ‘amil, dikarenakan peserta asuransi sebagai shahibul mal maka ia berhak untuk mendapatkan bagian dari keuntungan yang diperoleh perusahaan asuransi.
Keuntungan yang diterima peserta asuransi terjadi pada saat pembayaran klaim oleh perusahaan asuransi, berupa tabungan peserta asuransi, porsi bagi hasil dan tabunan tabarru’. Porsi bagi hasil ini sebenarnya realisasi dari akad mudharabah dan dalam akad mudharabah ini juga terdapat konsekuensi dimana bisa saja premi yang disetorkan oleh peserta asuransi berkurang jumlahnya, hal ini terjadi apabila perusahaan asuransi mengalami kerugian dalam menginvestasikan dananya.

b) Aplikasi dari akad musyarakah
Aplikasi musyarakah terjadi pada saat asuransi syari’ah melakukan investasi dana yang dikumpulkan oleh peserta asuransi dalam bentuk premi. Akad ini dilakukan antara perusahaan asuransi syari’ah dengan investor, modal dalam musyarakah berasal dari kedua pihak. Berbeda dengan mudharabah dimana modal sepenuhnya berasal dari perusahaan asuransi sebagai shahibul mal. Apabila investor mendapatkan keuntungan, maka keuntungan tersebut akan dibagikan kepada pihak-pihak yang berserikat sesuai dengan sahamnya masing-masing.
c) Aplikasi dari akad wadi’ah
Akad wadi’ah diaplikasikan dalam asuransi syari’ah pada saat peserta asuransi menyerahkan premi kepada perusahaan asuransi. Akad yang digunakan pada saat penyerahan premi ini adalah akad tabungan, dimana peserta menitipkan harta (uang) miliknya kepada perusahaan asuransi.
9. Perbedaan antara asuransi konvensional dan asuransi syari’ah
TYPE ASURANSI KONVENSIONALA ASURANSI SYARI’AH
Visi dan misi Visi: mencapai keuntungan yang maksimal
Misi: untuk mencapai surplus underwriting dan profit yang semakin meninngkat Visi: mencapai kesejahteraan dan kebahagian dunia dan akhirat.
Misi: bermuamalatlah sesuai dengan prinsip syari’ah, tolong-menolong sesama peserta, memberikan keuntungan kepada para pihak secara adil.
Konsep Perjanjian antara dua pihak atau lebih, dimana pihak penanggung mengikatkan diri kepada tertanggung dengan menerima pergantian kepada tertanggung Sekumpulan orang yang saling bantu-membantu, saling menjamin dan bekerja sama antara satu dengan lainnya dengan cara masing-masing mengeluarkan tabarru’.
Akad Akad jual beli, tabaduli Akad tabarru’ dan akad tijarah (mudharabah,wakalah, syirkah, dll)
Dewan Pengawas Syari’ah Tidak ada, sehingga dalam prakteknya bertentangan dengan kaidah-kaidah syari’ah Ada. Berfungsi untuk melakukan pengawasan terhadap kesesuaian syari’ah
Jaminan/Risk Transfer of risk dimana terjadi transfer resiko dari tertanggung kepada penanggung Sharing of risk, dimana terjadi proses saling menanggungantara satu peserta dengan peserta lainnya
Unsur premi Sumber biaya klam adalah dari rekening perusahaan, sebagai konsekuensi penanggung terhadap tertanggung. Murni bisnis dan tidak ada nuansa spiritual. Unsur premi: Mortalita, biaya dan bunga. Iuran atau kontribusi terdiri dari unsure tabarru’ (tidak mengandung riba). Tabarru’ juga menghitung dari table mortalita tetapi tanpa perhitungan bunga.
Unsur premi: mortalita, biaya dan bagi hasil atau fee (sesuai akad)

Sistem akuntansi Menganut konsep akuntansi accrual basis, proses akuntansi yang mengakui terjadinya peristiwa atau keadaan non kas. Dan mengakui pendapatan asset, expense, liabilities dalam jumlah tertentu yang baru akan diterima dalam waktu akan datang Pada prinsipnya menganut akuntansi cash 0062asis, namun metode accrual basis dapat digunakan pada aspek biaya dan hal lain yang dipandang sangat diperlukan.
Pembayaran kliam Dari rekening dana perusahaan Dari rekening tabarru’ (dana kebajikan) seluruh peserta sejak awal sudah diikhlaskan oleh peserta untuk keperluan tolong-menolong bila terjadi musibah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: